Posted by: morninghours on: January 31, 2011
Rumah Bu Kasih sederhana saja. Halamannya tidak seluas dan seasri halaman rumah Profesor Drina dan tidak juga semewah rumah dr. Elang. Tidak ada penjagaan ketat dalam rumah itu karena memang tidak ada yang patut dijaga. Pagarnya pun sangat kecil dan rapuh seolah memberi isyarat pada pencuri, “Masuk saja dan coba temukan apa yang dapat kau curi dari rumah sederhana yang tidak ada apa-apanya ini.”
Rumah itu bahkan tidak punya bel yang dapat membantu Drina dan Karmina memberitahukan keberadaan mereka pada tuan rumah sehingga Karmina harus berteriak “Assalamu’alaikum” dengan volume toa.
Usaha pertama Karmina gagal karena tidak ada jawaban atas salamnya tersebut.
“Kamu yakin ini rumahnya?” tanya Drina sambil melihat rumah kecil yang agak tak terawat itu dengan seksama. Karmina hanya mengangguk kecil, tak melihat ke Drina. Ia pun sibuk memperhatikan rumah kecil itu menunggu seseorang keluar dari sana.
“Assalamu’alaikum!” Karmina melakukan usaha kedua dengan volume yang lebih lantang.
Usaha keduanya berhasil. Sebuah suara parau menjawab salam tersebut. Sesosok wanita tua perlahan keluar dari rumah kecil itu, berjalan tergopoh-gopoh ke arah pagar yang letaknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari pintu rumah namun seolah memakan waktu seabad baginya untuk melangkah ke sana karena memang tubuhnya tidak terlalu kuat untuk melangkah. Sayup-sayup, terdengar suara paraunya menyebutkan kalimat-kalimat dalam bahasa Jawa.
Drina, sebagai seorang wanita Batak, tidak terlalu memahami maksud dari kalimat-kalimat tersebut. Tapi sebagai seorang linguis, ia tahu bahwa kalimat-kalimat tersebut diucapkan dalam bahasa Jawa Ngoko. Dan sebagai pembaca suara ilokusi, tentunya ia dapat membaca makna di balik tuturan yang dikatakan oleh nenek itu pada dirinya sendiri. Suara ilokusi yang bergema mengiringi suara parau nenek itu adalah suara menggerutu. Suara yang terkejut sekaligus terganggu atas kedatangan seorang tamu yang tak pernah dinanti maupun ditunggu. Suara itu berkata, “Kenapa tiba-tiba saja ada tamu jam segini? Seterikaanku sedang menumpuk. Rasanya aku sudah tidak punya urusan dengan siapa-siapa lagi. Tagihan sudah kubayar semua. Apa si pedagang baju keliling itu lagi? Merepotkan saja.”
Tapi setelah ia sudah berhadap-hadapan dengan Drina dan Karmina, wajah nenek tua yang tadinya ditekuk itu perlahan meregang. Senyum mulai teruntai di pipinya. Pandangan matanya pun menjadi begitu ramah. “Ada keperluan apa?” tanyanya dengan nada yang ramah. Bertolak belakang dengan nada menggerutu yang sebelumnya ia keluarkan. Suara ilokusinya pun berubah. Karmina mendengar suara ilokusi yang menggema dari suara nenek itu, “Kelihatannya mereka orang baik.” Sementara itu, Drina mendengar suara ilokusi yang menggema, “Fiuuh, untung bukan orang yang menagih listrik.”
“Apa benar ini rumah Bu Kasih?” tanya Drina.
“Ya, saya Kasih,” jawab nenek tua itu.
“Saya Drina Nasution. Saya kawan lama dari almarhum Pak Bagus Wiradinata. Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang beliau,” ujar Drina terus terang.
Dengan sekali mendengar nama Bagus, sikap Bu Kasih jadi semakin ramah dan mengizinkan Drina dan Karmina masuk ke rumah kecilnya yang sederhana, mempersilakan mereka duduk di sofa tua yang agak rusak tapi masih layak untuk didudukki, dan meminta putrinya yang ia panggil dengan nama “Citra” untuk menyediakan teh untuk mereka berdua. Citra, di luar dugaan, terlihat lebih muda dari Karmina dan seharusnya lebih layak menjadi “cucu” Bu Kasih daripada anaknya. Sayangnya, penampakan Citra agak aneh. Ia mengenakan T-Shirt berwarna ungu gelap dan rok selutut berwarna biru tua. Rambutnya panjang sebahu tapi ditutupi kerudung kusam berwarna cokelat tua yang juga ia gunakan untuk menutupi bagian wajah sebelah kirinya. Tetap saja kerudung itu tidak dapat menutupi sepenuhnya bekas luka bakar di wajah sebelah kirinya. Lebih mengejutkan daripada tampilannya, sikap Citra pun sangat aneh. Ia menatap para tamu rumahnya itu dengan ketakutan seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat turis asing atau seperti bayi kucing yang baru pertama kali melihat manusia. Ia bahkan tak bicara sepatah kata pun pada Drina dan Karmina; sekedar “halo” pun tidak. Meskipun demikian, Citra tetap menurut perintah ibunya, pergi ke dapur, dan menyiapkan teh untuk Drina dan Karmina.
Saat Citra sudah berada di dapur, Bu Kasih meminta maaf pada kedua tamunya karena ia merasa sikap putrinya sebelumnya terkesan tidak ramah. “Maafkan dia, dia memang tidak dapat bicara sejak lahir,” ujar Bu Kasih yang diiringi dengan suara ilokusi yang berkata, “Karena mengidap penyakit aneh yang namanya tidak dapat kuingat.” Tentu saja Bu Kasih tidak menyebutkan hal tersebut dalam tuturan lokusinya. Terlalu memalukan bagi seorang ibu bila tak dapat mengingat nama penyakit yang diderita anaknya sendiri. Hal ini dimaklumi oleh Drina dan Karmina yang mendengarkan suara ilokusi yang sama. Bu Kasih merupakan salah satu orang paling jujur yang ditemui Drina dan Karmina. Suara lokusi dan ilokusinya umumnya sama. Hanya sedikit sekali perbedaan antara suara ilokusi dan suara lokusinya. Drina dan Karmina kagum dengan kemampuan Bu Kasih mengerahkan kesantunan untuk memegang kendali tuturannya tanpa membinasakan kejujuran dari suara hatinya. Sedikit sekali orang yang bisa berbuat demikian.
“Luka bakar itu?” tiba-tiba Karmina bertanya karena penasaran. Ia tahu mungkin pertanyaan tersebut tidak sopan. Tapi tuturan lokusi dan ilokusi Bu Kasih yang ia dengar selama ini membuat Karmina berpikir positif bahwa orang seperti Bu Kasih tidak akan menolak pernyataan terus terang selama itu dinyatakan dengan santun.
“Itu gara-gara kebakaran sepuluh tahun yang lalu,” ujar Bu Kasih dengan lafal yang jelas namun dengan intonasi mirip orang Jawa. Gaya bicara ini mengingatkan Drina dengan gaya bicara Bagus Wiradinata.
“Sepuluh tahun yang lalu, waktu usia Citra masih 17 tahun,” Bu Kasih menjelaskan, diiringi dengan pandangan tak percaya dari Drina dan Karmina yang menyangka bahwa 17 adalah usia Citra sekarang, bukan 10 tahun yang lalu. Tapi Drina dan Karmina tidak mendengarkan kebohongan apapun karena tidak ada perbedaan antara suara lokusi dan suara ilokusi Bu Kasih saat itu. Bu Kasih sadar bahwa tatapan mata Drina dan Karmina menunjukkan bahwa mereka tidak yakin akan pernyataannya, dan ia pun cepat tanggap. “Ya memang dia seperti anak remaja, padahal sudah 27 tahun,” jelas Bu Kasih sambil tertawa.
“Ada apa 10 tahun yang lalu?” Drina masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Ia ingin tahu tentang kebakaran yang dialami oleh Bu Kasih dan Citra. Drina punya firasat bahwa kebakaran itu ada hubungannya dengan Bagus Wiradinata. Dan firasat Drina benar.
Selanjutnya Bu Kasih menceritakan bahwa kebakaran tersebut terjadi di rumah mereka sebelumnya. Saat itu, ayah Citra memang sudah lama meninggal, tapi setidaknya beliau meninggalkan warisan yang cukup banyak dan rumah yang cukup besar untuk istri dan anaknya bertahan hidup. Sayangnya, kebakaran saat itu melenyapkan segala harapan yang tersisa, bahkan Citra pun hampir meninggal saat itu. Saat itulah, Bagus Wiradinata, sebagai seorang pemadam kebakaran yang sangat bertanggung jawab, menyelamatkan nyawa Citra. Rumah dan sebagian besar harta tak bisa diselamatkan, tapi putri semata wayangnya selamat. Hal itulah yang membuat Bu Kasih sangat berhutang budi pada Bagus dan sangat menghormatinya bahkan kini saat ia telah tiada.
“Sejak saat itu kami teman baik. Dia bahkan membantu aku mencari pekerjaan baru. Karena ijazahku ikut terbakar di rumah itu, sulit bagiku untuk melamar pekerjaan baru. Tapi ia membantuku. Meskipun hanya pekerjaan-pekerjaan kecil yang kudapat, aku sangat bersyukur dan berterima kasih padanya,” jelas Bu Kasih panjang lebar.
Drina menyimak baik-baik setiap kata yang diucapkan Bu Kasih. Ia pun menyimak baik-baik setiap suara ilokusi yang terdengar dari balik tuturan-tuturan nyatanya. Tidak ada perbedaan antara suara lokusi dan suara ilokusi Bu Kasih. Ia adalah salah seorang wanita yang paling jujur yang pernah Drina temui, dan tentunya, Drina dapat mengukur kejujuran ini dengan akurat karena kemampuannya mendengar suara ilokusi. Tentu saja Drina pernah bertemu dengan orang-orang jujur lainnya. Namun, khusus untuk Bu Kasih, Drina merasakan perasaan keterikatan yang begitu mendalam karena setiap kata yang diucapkan Bu Kasih menunjukkan seolah-olah ia sangat mengagumi Bagus Wiradinata. Ini adalah kemiripan antara dua wanita tua ini. Mereka berdua sangat mengagumi kebaikan hati Bagus Wiradinata, meski mungkin kekaguman Drina memang agak berbeda dengan kekaguman Bu Kasih, maupun kekaguman perempuan mana pun yang mengagumi almarhum penakluk si jago merah itu.
Simpati Drina terhadap kejujuran Bu Kasih ini hampir-hampir membuatnya lupa untuk mencurigai beliau, seperti halnya Drina mencurigai semua orang-orang terdekat Bagus Wiradinata. Sekali lagi, tentunya ini bukan karena Drina Hutabarat adalah seorang yang picik. Hanya saja bila ia tidak mencurigai orang-orang tersebut sebagai pelaku pembunuhan Bagus Wiradinata, itu berarti ia membenarkan bahwa Bagus Wiradinata melakukan pembunuhan pada dirinya sendiri. Sesuatu yang tidak akan pernah mungkin dilakukan oleh orang sepositif beliau. Dan bila benar dia berbuat demikian, maka itu akan mengurangi kekaguman Drina pada Bagus. Drina tidak mau hal itu terjadi. Karena kekagumannya pada kebaikan hati Bagus adalah salah satu hal terindah yang pernah ia rasakan seumur-umur ia dapat merasakan sesuatu.
Karena ingin menjaga kepercayaannya pada Bagus, ia menjaga kecurigaannya pada orang-orang di sekitar Bagus. Dan karena ingin menjaga kecurigaan ini, Drina pun akhirnya mulai bertanya mengenai kematian Bagus pada Bu Kasih. Kalau-kalau keseimbangan suara ilokusi dan suara lokusi Bu Kasih akan tergoyahkan bila ditanyakan masalah kematian Bagus. Pikiran yang buruk, tentu saja. Oleh karena itu, Drina ingin membuktikan kebenaran ini secara langsung, agar pikiran-pikiran buruk itu menjadi petunjuk, dan bukan fitnah belaka.
“Bu Kasih tahu mengenai kematian Pak Bagus?” tanya Drina spontan.
Seketika ekspresi wajah Bu Kasih berubah. Wajahnya yang penuh dengan antusiasme berangsur menjadi ekspresi sedih dan pasrah. Matanya yang membelalak penuh semangat tiba-tiba meredup seperti lampu yang kehilangan daya terangnya. Dengan kemedokan Jawa yang juga memudarmenghela nafas, ia berkata pelan, “Ya, saya tahu.”
Suara ilokusi yang terdengar bukanlah suara nenek sihir yang kesal karena rahasia jahatnya ketahuan. Suara ilokusi yang didengar Drina menggema mengiringi tuturan Bu Kasih saat itu adalah suara seseorang yang menangis karena kehilangan sahabatnya.
“Ibu percaya kalau dia bunuh diri?” Drina bertanya lagi. Entah sebagai pancingan untuk mengorek informasi lebih banyak, entah benar-benar ingin menanyakan hal yang ia tanyakan.
“Tidak,” Bu Kasih menggeleng pelan. Dengan ekspresi wajah yang sama. Dengan suara ilokusi yang juga menyatakan “Tidak.”
“Tapi toh saya harus menuduh siapa?” ujarnya dengan logat Jawa yang kembali mengental. Bunyi /d/ khas Jawa ia lafalkan pada kata “menuduh.” Dan sekali lagi, tidak terdengar suara ilokusi yang mencurigakan sedikit pun.
Suasana sempat hening sejenak seperti saat mengheningkan cipta saat upacara bendera. Sebelum akhirnya Karmina membantu Drina untuk kembali ke tujuan awal. “Maaf, Bu Kasih. Boleh kami tahu, apa Bu Kasih pernah memiliki tulisan dari Pak Bagus dalam bentuk apapun? Surat atau kartu ucapan begitu?” tanya Karmina dengan sopan.
“Ada. Dia sering kirim kartu lebaran,” jawab Bu Kasih santai, lagi-lagi tanpa suara ilokusi yang mencurigakan.
“Boleh kami lihat, Bu?” pinta Karmina.
“Buat apa ya?” Dari suara ilokusinya, justru kali ini Bu Kasih yang balik curiga.
“Mau difotokopi, Bu. Mau disimpan untuk kenang-kenangan,” Karmina berbohong dengan nada yang sangat lugu dan jujur.
“Oh, kalian ini benar-benar kawan dekat Bagus ya?” tanya Bu Kasih lagi.
“Saya cucunya,” jawab Karmina jujur. Dengan ekspresi lugu dan jujur.
“Ya ampun! Kamu Karmina?” wajah Bu Kasih terkejut bahagia. “Dulu waktu lihat kamu, kamu masih keciiil! Nggak inget ya?”
“Iya, Bu. Saya Karmina. Terakhir kali ketemu waktu Ibu ke rumah saya waktu masih SD. Masa Ibu lupa?” jawab Karmina, sama antusiasnya.
Sejenak mereka sempat mengobrol-ngobrol reuni, dan Drina tidak berani menghentikan keduanya. Jadi ia menunggu sampai salah satu di antara keduanya sadar dengan kartu ucapan yang seharusnya diberikan oleh Bu Kasih. Dan benar saja, tidak terlalu lama, Bu Kasih menyadarinya dan segera mengambilkan kartu ucapan lebaran dari Bagus Wiradinata. Pada saat itu, Drina dengan sigap langsung memeriksa unsur-unsur bahasa yang ada pada ucapan yang dituliskan Bagus Wiradinata.
Kartu itu bertuliskan sebagai berikut:
Selamat Idul Fitri, Kasih dan Citra
Mohon maaf lahir batin. Semoga Bu Kasih tidak sering marah-marah lagi. Dan semoga Citra menjadi anak yang banyak tersenyum.
Hormat saya,
Bagus Wiradinata
Tanpa disangka, gaya bahasa bagus di kartu lebaran tersebut sangat berbeda dengan gaya bahasa yang tersirat di surat bunuh dirinya. Bahasa yang digunakan sangat formal, berstruktur, lengkap dengan imbuhan, tidak seperti kata kerja yang tertera di surat bunuh dirinya. Dan meskipun sering kali Bagus tidak menggunakan imbuhan dalam bahasa lisannya, Drina mulai mengingat bahwa dalam menulis, Bagus sangat mematuhi kaidah-kaidah berbahasa. Dengan kata lain, orang yang menulis kartu lebaran ini adaah Bagus, dan orang yang menulis surat bunuh diri tersebut bukanlah Bagus.
Namun tentu saja terlalu cepat untuk menyimpulkan demikian. Sebab bisa jadi Bagus menulis kartu lebaran dengan bahasa formal karena memang biasanya kita semua melakukan hal yang sama. Bisa jadi Bagus menjadi lebih informal dalam surat bunuh diri karena surat tersebut didedikasikan pada Karmina, orang terdekat dalam hidupnya. Dan bisa jadi ada faktor-faktor emosional yang membuat Bagus jadi sangat informal dan tak punya waktu untuk mematuhi kaidah bahasa ketika menulis surat bunuh diri tersebut.
Tapi semua kemungkinan yang menyudutkan Bagus itu tidak digubris oleh Drina. Dan meskipun sebagai seorang linguis, kesimpulannya ini mungkin terkesan terlalu terburu-buru, Drina Hutabarat memutuskan bahwa kartu lebaran ini adalah bukti penguat bahwa surat bunuh diri itu tidak ditulis oleh Bagus Wiradinata dan bahwa kematian Bagus Wiradinata memang benar adalah pembunuhan.
May 24, 2011 at 4:55 pm
Wuih, masih berlanjut nih ceritanya.
Btw, saya ada prediksi..
.. mungkin tujuan utama cerita ini bs jd beban klo trus dibahas sampai 5-10 chapter ke depan (kecuali berniat ditamatkan)
bisa dikesampingkan barangkali? memang puzzle yg dikumpulkan satu persatu sih, tapi jadi.. repetitif kan ya?
sekedar saran sih, dari pembaca yang mengganggu aja kerjaannya. moga2 bisa berhasil jadi buku ya, ini (sedang curcol) soalnya gw ada satu orang lain yg berhenti, padahal gw udha setia banget ngikutin, karna udha gak sempet nulis lagi sama sekali katanya (tapi dia idenya ada, cuman udha gak sanggup untuk buat narasi aja. ujung2nya malah bongkar twist ama kasih sinopsis.. karyanya ditinggalin gitu aja)
February 5, 2012 at 1:19 pm
Btw, saya nggak jeli akan tamatnya suatu kisah–nggak menandakan kisahnya nggak berlanjut ke cerita baru lagi. Pasti bakalan seru banget nih akhir ceritanya. Ditunggu ya.