The Morning Hours

“Bu Drina sama sekali tidak curiga dengan Bu Kasih sekarang?”

Itulah pertanyaan yang pertama kali dilontarkan Karmina ketika mereka sudah mendapatkan posisi yang cukup tidak enak karena berdempet-dempetan dengan penumpang lain di dalam kereta. Untungnya jarak mereka dekat dan tidak terpisah, hingga mereka masih bisa saling berbicara. Pembicaraan yang mereka bicarakan, sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang mereka bicarakan pada saat menunggu kereta, yang sempat terhenti ketika mereka memasuki kereta api yang terpadati banyak manusia di Jakarta. Memasuki sebuah kereta api di Jakarta memang membutuhkan konsentrasi penuh. Kalau tidak konsentrasi, dompet akan hilang. Kalau tidak konsentrasi, tangan-tangan jahil akan datang, untuk tujuan apapun yang ia mau, yang jelas pasti merugikan pihak yang dijahili. Drina dan Karmina tidak suka dengan konsekuensi-konsekuensi yang dapat timbul apabila mereka tidak berkonsentrasi ketika sedang naik ke kereta. Maka dari itu, mereka memutuskan pembicaraan mereka sejenak mengenai mengapa Drina terlalu yakin bahwa kartu-kartu lebaran yang dikirim Bagus pada Bu Kasih menguatkan kemungkinan bahwa kematian Bagus adalah pembunuhan tapi entah kenapa itu meyakinkan Drina bahwa Bu Kasih tidak terlibat.

Read the rest of this entry »

Rumah Bu Kasih sederhana saja. Halamannya tidak seluas dan seasri halaman rumah Profesor Drina dan tidak juga semewah rumah dr. Elang. Tidak ada penjagaan ketat dalam rumah itu karena memang tidak ada yang patut dijaga. Pagarnya pun sangat kecil dan rapuh seolah memberi isyarat pada pencuri, “Masuk saja dan coba temukan apa yang dapat kau curi dari rumah sederhana yang tidak ada apa-apanya ini.”

Read the rest of this entry »

Setelah mendapati kecurigaan terhadap dr. Elang tidak terbukti, Drina dan Karmina melanjutkan perjalanan ke rumah tersangka berikutnya. Sepanjang perjalanan wajah Drina tampak terlihat sangat tidak nyaman. Seperti wajah seorang detektif, auditor, atau pemrasangka-pemrasangka lainnya yang tidak dapat menerima kenyataan bila apa yang mereka prasangkakan tidak terbukti benar.

Read the rest of this entry »

dr. Elang

Ada beberapa catatan penting yang ditulis oleh Drina terkait dengan surat bunuh diri yang hendak mereka selidiki. Catatan-catatan ini sudah disiapkan oleh Drina ketika ia dan Karmina bertandang ke rumah orang-orang yang dicurigai Karmina sebagai orang terdekat Bagus Wiradinata. Yah, “curiga” memang kata yang asing bagi Karmina. Berbeda dengan Drina yang terbiasa mencurigai semua orang yang baru ia kenal, Karmina selalu berpikiran positif terhadap semua orang dan semua hal yang ia hadapi di dunia ini. Seperti Drina saat masih di bawah usia empat tahun, Karmina melihat dunia penuh dengan kasih sayang yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Ia merasa bahwa dunia benar adanya penuh keindahan dan cinta kasih. Dan meskipun ada beberapa masalah di muka bumi ini, itu sebenarnya dapat diatasi bila orang-orang melihat sisi positif dari dunia. Sama seperti permen gulali dan permen warna-warni yang ia makan. Atau susu cokelat dan biskuit yang sering mengotori mulutnya, tapi tidak berbahaya baginya. Karmina tidak pernah berdoa agar selamanya dunia bersikap baik padanya. Dan mungkin dunia memang tidak selamanya bersikap baik padanya, tapi dunia selalu terlihat baik baginya, karena suara-suara positif yang ia dengar mensugestikan demikian.

Read the rest of this entry »

Kilas balik ingatan Drina tentang beberapa bagian dari kenangan masa lalunya tiba-tiba terpecah oleh suara Karmina. Suara yang bervolume tinggi dengan kontrol suara yang tidak terlalu bagus. Sumbang. Ciri khas suara anak muda yang tidak terlatih dalam regu paduan suara.

“Bu Drina,” panggil Karmina dengan suara itu.

“Hah?”Drina tidak menjawab panggilan itu. Ia hanya terkejut dan kembali ke masa sekarang.

“Bagaimana, Bu? Surat bunuh diri ini?” Karmina kembali mengingatkan.

Read the rest of this entry »

Rumah keluarga Wiradinata tidak terlihat sebagus rumah keluarga Hutabarat. Setidaknya, itu menurut sudut pandang Drina saat ia masih kecil. Halaman rumahnya tidak seluas halaman rumah Drina. Tanaman yang ada pada halaman tersebut tidak terlalu terawat, tidak seperti tanaman-tanaman di halaman rumah yang memang dijaga dengan baik oleh ayah Drina yang merupakan seseorang yang sangat mencintai pertanaman. Tidak seperti halaman Drina yang menjunjung tinggi estetika pertanaman, halaman rumah keluarga Wiradinata dapat menjadi tempat keluar masuk ayam liar dan kucing liar sesuka mereka. Dan tak ada yang peduli akan hal itu.

Read the rest of this entry »

Hari itu, Drina memasuki hari kelimanya ketika duduk di bangku kelas 6 SD. Sudah hampir tujuh tahun Drina berusaha hidup bersama suara-suara menyeramkan yang ia dengar setiap kali ia mendengar orang lain berbicara. Dan ia bertahan.

Read the rest of this entry »

Kilas balik ingatan Drina bermula pada masa-masa awal ia menjadi bagian dari dunia. Ia lahir tanpa cacat, dan dengan keluarga yang bahagia. Sewaktu masih kecil, Drina menikmati kehidupan bersama orang tuanya dan kakak perempuannya. Sampai usia empat tahun, ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang sehingga sempat tertanam dalam benaknya bahwa dunia itu memang benar adanya penuh keindahan dan cinta kasih. Sama seperti permen gulali dan permen warna-warni yang ia makan. Atau susu cokelat dan biskuit yang sering mengotori mulutnya, tapi tidak berbahaya baginya. Bahkan karena sangat menikmati keadaan dunia yang seperti itu, setiap malam ia berdoa agar ia dapat mengalami kehidupan yang sama seperti itu untuk keesokan paginya, selama-lamanya.

Read the rest of this entry »

Drina tidak dapat melepaskan pandangannya dari Karmina selama setengah menit ketika gadis itu dengan leluasanya langsung duduk di atas sofa kecil di ruang tamu Drina tanpa disuruh. Jarak antara kedua kakinya yang tidak mencerminkan sikap duduk anak perempuan menunjukkan bahwa ia memperlakukan sofa itu seperti sofa di rumahnya sendiri. Sungguh berbeda dengan apa yang biasa dialami Drina selama ini. Selama ini, semua anak seusia Karmina yang bertamu ke rumah Drina selalu menunjukkan sikap segan pada nenek cerdas itu. Tentu saja, karena mereka adalah mahasiswa Drina.

Read the rest of this entry »

Drina membuka pintu rumahnya yang dicat warna hijau, sesuai dengan warna kesukaannya. Jarak antara rumahnya dengan pintu pagar tidak terlalu jauh dan halamannya tidak terlalu luas. Akan tetapi, halaman tersebut memiliki beberapa tanaman lebat yang menutupi pagar rumah yang tidak terlalu tinggi, sehingga orang-orang yang berdiri di sebelah pagar itu pun terhalang keberadaannya oleh tanaman-tanaman yang rimbun. Yang bisa dilihat nenek berusia 63 tahun seperti Drina dari jarak seperti itu hanyalah postur tubuh sang tamu yang menyerupai wanita muda. Drina tidak dapat melihat dengan jelas wajah tamu tersebut. Oleh karena itu ia melangkah maju mendekati pagar rumahnya untuk memastikan siapa tamu yang datang ke rumahnya hari itu.

Read the rest of this entry »

Blog Stats

  • 2,748 hits

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3 other followers