The Morning Hours

Paralinguistik

Posted on: May 16, 2012

“Bu Drina sama sekali tidak curiga dengan Bu Kasih sekarang?”

Itulah pertanyaan yang pertama kali dilontarkan Karmina ketika mereka sudah mendapatkan posisi yang cukup tidak enak karena berdempet-dempetan dengan penumpang lain di dalam kereta. Untungnya jarak mereka dekat dan tidak terpisah, hingga mereka masih bisa saling berbicara. Pembicaraan yang mereka bicarakan, sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang mereka bicarakan pada saat menunggu kereta, yang sempat terhenti ketika mereka memasuki kereta api yang terpadati banyak manusia di Jakarta. Memasuki sebuah kereta api di Jakarta memang membutuhkan konsentrasi penuh. Kalau tidak konsentrasi, dompet akan hilang. Kalau tidak konsentrasi, tangan-tangan jahil akan datang, untuk tujuan apapun yang ia mau, yang jelas pasti merugikan pihak yang dijahili. Drina dan Karmina tidak suka dengan konsekuensi-konsekuensi yang dapat timbul apabila mereka tidak berkonsentrasi ketika sedang naik ke kereta. Maka dari itu, mereka memutuskan pembicaraan mereka sejenak mengenai mengapa Drina terlalu yakin bahwa kartu-kartu lebaran yang dikirim Bagus pada Bu Kasih menguatkan kemungkinan bahwa kematian Bagus adalah pembunuhan tapi entah kenapa itu meyakinkan Drina bahwa Bu Kasih tidak terlibat.

“Kemungkinan besar nggak,” Drina menjawab pertanyaan Karmina, “dia terlalu menghormati Bagus. Dia harus membunuh rasa hormatnya itu bila ingin membunuhnya.”

“Oh, begitu,” ujar Karmina sambil menunduk di tengah desakan orang-orang di kereta. Hanya dari sedikit tuturannya itu, Drina dapat membaca suara ilokusi bahwa ada hal yang Karmina khawatirkan meskipun sebenarnya ia lega karena akhirnya nenek tua itu berpikiran positif pada seseorang. Kekhawatiran Karmina itu terlalu samar, bahkan Drina tak memahaminya sekalipun ia dapat mendengar suara ilokusi gadis tomboi itu.

“Kenapa? Kamu malah mencurigai dia?” tanya Drina penasaran. Karmina menggeleng. “Nggak, Bu,” jawabnya pelan. “Hanya saja… Saya merasa kalau dalam cerita-cerita detektif, orang yang paling tidak dicurigai adalah pelaku sebenarnya,” Karmina menambahkan dengan lugu.

Pernyataan dan cara bicara gadis itu membuat nenek tua yang berdesakan dalam kereta bersamanya jadi agak menahan tawa. “Kamu percaya sama cerita-cerita detektif?” Pertanyaan Drina itu terdengar agak sinis, meskipun Karmina dapat mendengar suara ilokusi yang ramah bahwa Drina mulai menyukai Karmina karena keluguannya yang aneh itu.

“Tapi kita sendiri tidak dapat menjamin kan kalau seseorang bersalah atau tidak bersalah hanya karena kita dapat membaca suara ilokusi mereka. Kita hanya dapat mendengar suara ilokusi kalau orang itu sedang berbicara. Bagaimana justru dia menyatakan niat buruknya ketika dia sedang diam? Bagaimana pula seandainya saat ia berbicara, ia sedang emosi, dan suara ilokusi yang kita dengar hanya bagian dari emosi sesaatnya sehingga seolah-olah dia berniat jahat pada kita?”

Argumen Karmina tersebut membuat Drina terdiam. Ia kembali ingat dengan kejadian yang pernah ia alami sewaktu ia kecil dulu. Ia sempat menyangka ibunya membencinya, seperti halnya orang-orang lain membencinya. Ia sempat salah paham dengan banyak orang ketika ia hanya dapat membaca suara ilokusi negatif. Bahkan kalaupun sekarang ia dapat mendengar berbagai jenis suara ilokusi, memang tidak menutup kemungkinan bahwa ia dapat salah menafsirkan apa yang ia dengar. Bagaimanapun, tidak ada kebenaran yang dipampangkan secara langsung dan jelas dengan pemahaman yang sama untuk setiap manusia. Manusia memiliki tingkat subjektivitas yang berbeda-beda, oleh karena itu membaca kebenaran dengan pasti adalah hal yang sulit dan harus dilakukan melalui beberapa lapis proses. Menyadari hal ini, Drina pun terkesima dengan kenyataan bahwa gadis lugu yang kelihatannya tidak tahu apa-apa soal kejamnya hidup seperti Karmina ternyata memiliki kebijaksanaan yang baru dapat dicapai Drina setelah puluhan tahun mendengar suara ilokusi. Dan bahkan, kebijaksanaan ini kadang-kadang terlupakan bila Drina sudah asyik dengan teori-teorinya sendiri. Karmina, gadis lugu yang tidak tahu apa-apa itulah yang menyadarkannya. Dan entah kenapa hal ini membuat Drina malu pada dirinya sendiri sekaligus bangga karena Karmina mewarisi kebijaksanaan yang dimiliki oleh Bagus Wiradinata.

Saat itu, Drina tersenyum perlahan pada Karmina dan hendak menyatakan kekagumannya pada jalan pikiran gadis itu. Akan tetapi, belum sempat ia menuturkan apa-apa, tiba-tiba kereta sudah berhenti di stasiun yang mereka tuju. Dan seperti halnya warga Jakarta yg sudah berpengalaman, Karmina dengan sigap menarik tangan Drina agar tak terpisah darinya dan mereka berdua keluar dari kereta bersama berbondong-bondong manusia lainnya. Banyak suara ilokusi bergema bertumpang tindih ketika mereka keluar dari kereta tersebut. Akan tetapi, bukan suara ilokusilah yang membuat Karmina saat itu sadar bahwa ada bahaya di sekitarnya. Intuisinya sebagai warga Jakarta yang biasa naik turun kereta membuatnya cepat sadar ketika ada sebuah tangan menyentuh saku celananya. Ya, saat itu, seseorang tengah mencuri dompetnya.

“COPET!” teriak Karmina dengan spontan. Ia segera menangkap tangan si copet dengan gesit selagi copet itu masih belum melesat pergi. Copet itu berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Karmina yang cukup kuat. Drina bermaksud untuk turut membantu Karmina menahan copet tersebut agar tidak lari ke mana-mana. Akan tetapi, begitu Karmina, Drina, dan copet itu sudah terdorong keluar kereta oleh desakan orang-orang lain yang hendak keluar juga, genggaman Karmina lepas dan Drina hanya sempat menyentuh pundak copet muda yang kemudian langsung lari sambil membawa dompet Karmina.

“COPEET!” teriak Drina yang bersahutan dengan teriakan Karmina yang menyebutkan kata yang sama.  Mendengar teriakan Drina dan Karmina, orang-orang di sekitar mereka sigap mengejar pria yang membawa dompet Karmina tersebut. Salah seorang pria yang lebih gesit dari si copet berhasil menangkapnya. Setelah itu, beberapa orang melumpuhkannya dan memukulinya. Sayup-sayup Drina mendengar suara amarah yang menyerupai suara monster dan nenek sihir bersahut-sahutan, memaki pencopet yang menjadi lahan ekspresi kekesalan dan kekecewaan banyak orang yang sebenarnya tertumpuk dalam-dalam dan hanya dikeluarkan pada saat-saat tepat semacam ini. Sayup-sayup pula, Drina mendengar suara monster yang membela diri, tak merasa bersalah meskipun tahu perbuatannya salah. Itu adalah suara ilokusi pencopet tersebut. Mengingatkan Drina akan suara monster seorang anak kecil keras kepala yang sering menghantuinya pada masa kecilnya. Suara monster yang mengingatkannya akan Taka, musuh masa kecilnya.

*******

Copet tersebut duduk diam dengan wajah angkuh penuh pertahanan diri di kantor polisi yang suram. Kantor polisi tersebut, seperti layaknya kantor polisi yang berlokasi di dekat stasiun kereta api di Jakarta, terlihat tidak terawat. Seorang polisi duduk di depan Drina, Karmina, dan copet angkuh itu sambil mengetik dengan acuh tak acuh. Entah apa yang dia ketik. Mungkin kejadian yang diceritakan oleh Drina dengan berapi-api. Tentu saja nenek tua itu tidak dapat menerima perbuatan yang telah dilakukan copet itu pada Karmina di kereta tadi. Sebagai seorang yang sudah tua, meskipun tidak memiliki cucu maupun anak, ia dapat membayangkan seandainya ia memiliki cucu perempuan atau anak perempuan, kemudian cucu atau anak perempuan itu harus menghadapi kerasnya kota Jakarta kemudian dicopet, tentunya ia akan sangat marah dan kesal pada pencopet itu.

Tapi Drina yang sejak tadi sudah marah-marah, layaknya seorang nenek marah-marah, lebih kesal lagi dengan aura copet tersebut yang sangat mirip dengan aura Taka, musuh masa kecilnya. “Sampai ke muka-mukanya juga mirip,” gerutu Drina dalam hati, yang terlalu malu untuk dia ungkapkan di depan polisi yang sejak tadi sedang mengetik dengan cuek.

Ya, sebenarnya gerak-gerik polisi itu dari tadi juga menambah gundah suasana hati Drina. Tidak, Drina tidak bisa membaca suara ilokusi polisi itu karena sejak tadi polisi itu lebih banyak diam ketimbang bicara. Tapi ada aura yang tidak ia sukai dari polisi itu bila Drina membaca dari gerak-geriknya, tatapan matanya, dan elemen-elemen paralinguistik yang ia tunjukkan. Sebagai seorang linguis, Drina memahami bahwa dalam berinteraksi dengan manusia, bukan hanya ranah linguistik saja yang harus diperhatikan, tetapi juga elemen-elemen paralinguistik seperti tatapan mata dan gerak tubuh. Dan polisi yang satu ini telah mengeluarkan elemen-elemen paralinguistik yang tidak menyenangkan bagi Drina.

Polisi itu terlihat seumuran dengan Drina. Sudah tua. Tapi entah kenapa, masih bekerja. Mungkin karena tidak memiliki pekerjaan lain untuk diisi selama hari tuanya. Tapi yang paling dibenci dari Drina adalah sikap acuh tak acuh dan meremehkannya, yang mengingatkan Drina dengan seseorang yang sangat ia benci. Drina bahkan curiga bahwa polisi tua ini merupakan orang menyebalkan yang ia ingat di masa lalu. Oleh karena itu, Drina pun akhirnya bertanya pada si polisi untuk memastikan kecurigaannya.

“Pak Polisi namanya siapa?” tanya Drina ketus.

“Taka Gunawan. Ibu Drina Nasution kan?” ia balik bertanya dengan nada yang tidak kalah ketus.

Melalui suara yang dilontarkan polisi tua itu, Drina dapat mendengar suara-suara ilokusi penuh pikiran buruk dan kebencian yang dulu pernah membuatnya trauma sewaktu ia kecil. Bedanya, karena Taka sekarang pun sudah agak tua, kelihatannya ada sedikit kata-kata bijaksana yang bercampur dengan suara ilokusi penuh amarah yang menjadi ciri khas Taka. Sayangnya, kata-kata bijaksana ini hanya dapat didengar oleh Karmina, dan bukan oleh Drina yang hanya dapat membaca suara ilokusi negatif Taka.

“Kita sudah sama-sama tahu. Tidak disangka kamu sekarang jadi polisi di sini,” ujar Drina basa-basi. Kemudian dengan kemampuan analisisnya yang cepat, ia berpikir sejenak, sebelum akhirnya bertanya, “Kamu kenal dengan copet ini?”

“Kamu masih bisa membaca pikiran orang?” ledek Taka sambil tersenyum sinis. Taka sebenarnya sejak dulu diam-diam selalu terkesima dengan kemampuan Drina membaca situasi dan kondisi. Hanya saja, ia tidak percaya bahwa itu karena kemampuan Drina yang di atas manusia rata-rata. Ia tidak percaya bahwa suara ilokusi itu ada. Itu hanya akan menambah derajat Drina di matanya. Oleh karena itu, Taka menganggap bahwa itu hanyalah kemampuan sederhana yang dimiliki oleh orang-orang yang kemampuan nalar dan analisisnya baik.

“Dia sangat mirip dengan kamu. Sampai ke muka-mukanya. Sampai ke sifat-sifatnya,” ujar Drina ketus. Sebenarnya Drina ingin menambahkan “sampai ke suara ilokusinya.” Tapi toh untuk apa menyatakan hal itu pada orang yang sama sekali tidak percaya dan meremehkan keberadaan suara ilokusi.

Taka tertawa cukup lantang ketika mendengar apa yang diucapkan Drina. Dari suara tawanya itu Karmina dapat mendengarkan suara ilokusi yang menyampaikan kenyamanan dan kebahagiaan Taka karena akhirnya dapat bertemu kembali dan bertengkar kembali dengan Drina. Sayangnya, hanya Karmina yang dapat mendengar bagian indah dari suara ilokusi Taka itu, bukan Drina.

“Ya, dia cucuku. Dia mencopet bukan karena butuh uang, tapi karena hobi,” ujar Taka santai sambil menghisap puntung rokoknya layaknya seorang kakek tua gaul yang keren. Ya, bagi Karmina yang masih muda, pose Taka itu terlihat keren. Bagi Drina, ia hanya seorang kakek bodoh yang menghabiskan sisa hidupnya dengan merusak metabolisme tubuh.

“Tapi aku akan adil,” lanjut Taka. “Dia pasti dipenjara, seperti biasa. Dia sudah berulang kali keluar masuk penjara. Tidak pernah jera,” ujar Taka sambil melirik ke arah cucunya dengan tajam.

Pada saat itu juga, sang cucu memandangi kakeknya dengan tatapan penuh amarah. Mirip dengan tatapan Taka saat muda. Kenangan Drina tentang suara ilokusi Taka yang tak pernah ia sukai itu pun mulai hadir secara nyata di hadapannya. Saat Taka seumur cucunya saat ini, ia juga merupakan seorang anak yang emosional dan tanpa arah, yang hobinya tawuran dengan murid SMA sebelah, tanpa alasan yang logis dan jelas.

Lalu cucu Taka pun mulai berteriak melawan kakeknya. Saat itu mulai terdengar tumpukan suara ilokusi penuh amarah yang nadanya sebegitu mengerikannya sehingga Drina mengingat kejadian pertama ketika ia dapat mendengarkan suara-suara ilokusi negatif. Untungnya saat ini Drina sudah cukup dewasa untuk menyaring suara ilokusi yang ingin ia dengar dan yang tak ingin ia dengar, sehingga tidak semua suara monster penuh amarah yang saling tumpang tindih itu dapat ia dengar. Tetap saja, Drina berusaha mencari tahu sesuatu tentang si copet ini. Oleh karena itu, ia tetap membiarkan satu suara terdominan menggelegar di pendengarannya. Suara ini bersahut-sahutan dengan suara lokusi yang nyata dituturkan oleh pencopet muda tersebut.

“Kakek tidak usah terlalu banyak bicara! Kalau bukan karena Kakek, aku tidak akan begini!”

Kalau Kakek mau meneruskan penyelidikan tentang kematian Papa, aku tidak akan mencoba merasakan apa yang Papa rasakan!”

“Kakek yang membuatku jadi begini!”

“Kakek selalu tahu kalau itu bukan bunuh diri! Kakek selalu menyalahkan penyakit Papa itu! Aku hanya ingin merasakan apa yang Papa rasakan untuk memastikan bahwa itu bukan bunuh diri!”

“Selesaikan kasus Papa! Selesaikan kasus Papa!”

Seraya menahan tubuh pencopet muda yang meronta-ronta sambil terus menjerit-jerit itu, Taka memasukkan cucunya sendiri ke dalam sel kecil yang ada di kantor polisi tua tak terawat tersebut. Sesaat sebelum Taka mengunci sel tersebut, Drina menatap ke arah si pencopet muda yang terus menerus berteriak dan mengeluarkan suara-suara ilokusi yang membuat si peneliti tua itu penasaran. Yang lebih membuat Drina penasaran sebenarnya bukanlah suara lokusi yang diucapkan si pemuda pencopet, dan bukan pula pada suara ilokusi yang ia keluarkan, melainkan pada sorot mata pencopet muda itu. Ya, memang ia berteriak. Memang ia marah. Namun sorot mata tersebut mengingatkan Drina pada sorot mata Karmina ketika memohon agar Drina membantu membuktikan pada polisi bahwa Bagus Wiradinata tidak bunuh diri. Sorot mata yang penuh pengharapan bahwa hal buruk yang telah menimpanya sebenarnya tidak seburuk itu. Sorot mata yang menyisakan satu-satunya pengharapan dalam hidup karena semua harapan telah pergi bersama dengan kejadian buruk yang telah terjadi.

“Taka!” Nenek tua itu menghampiri Taka dan berdiri bersamanya di depan sel polisi. Pencopet muda berhenti berteriak.

“Taka, coba kamu ceritakan apa maksud anak ini? Menyelesaikan kasus apa?” tanya Drina sambil menatap Taka dengan serius.

Taka mengernyitkan dahi dan menatap sinis pada Drina. “Itu sama sekali bukan urusanmu.” Terdengar suara ilokusi negatif penuh kekesalan yang singkat namun menyakitkan hingga Drina harus menegarkan diri sejenak untuk dapat menatap kembali Taka dengan berani.

“Ayah anak itu meninggal, kan? Putramu meninggal? Kenapa putramu meninggal?” Drina berusaha memancing Taka menceritakan kejadian sebenarnya dengan informasi yang ia dapat setelah membaca suara ilokusi cucu Taka sebelumnya.

Mata Taka mendadak membelalak. Dari tatapannya saja Drina sudah tahu bahwa ada sesuatu yang dirahasiakan Taka.

“Putramu meninggal bukan karena bunuh diri… Tapi semua mengatakan itu bunuh diri. Termasuk pihak kepolisian. Termasuk kamu?”

Drina mengucapkannya dengan terbata-bata. Tapi kata-katanya cukup untuk membuat Taka terperanga dan diam seribu bahasa. Drina tidak mendengar suara ilokusi apapun. Namun ia tahu, kali ini ia benar.

“Bagus Wiradinata… Kamu masih ingat Bagus Wiradinata? Dia… Dia juga meninggal beberapa waktu yang lalu. Semua orang bilang ia bunuh diri. Polisi juga. Tapi kamu tidak akan percaya kan? Tidak akan percaya bahwa orang seperti Bagus Wiradinata bunuh diri?”

Taka semakin terkejut. Namun kali ini ia mulai berbicara untuk dapat mengurangi kebingungannya. “Bagus?” tanyanya dengan ekspresi muka tidak percaya.

“Anak ini saksinya!” Drina menarik Karmina mendekat ke arah mereka berdua. “Dia cucu Bagus Wiradinata. Dia tidak percaya kakeknya meninggal. Sama seperti cucumu tidak percaya ayahnya, putramu, meninggal. …”

“Dari mana kamu tahu semua ini?”

“Tidak masalah dari mana aku tahu. Tapi tolong katakan padaku… Apa kejadian seperti ini…bukan hanya sekali terjadi? Di mana kejadiannya? Kapan?”

Baru pertama kali dalam hidup Drina ia menatap Taka dengan penuh harapan. Taka pun tetap tak habis pikir dengan segala gelagat yang dilakukan Drina. Memang bisa saja kematian Bagus Wiradinata dan kematian putranya hanyalah sebuah kebetulan yang mirip. Namun, dalam hati kecil Taka sebagai seorang polisi, dan sebagai seseorang yang percaya pada takdir Tuhan, ia percaya bahwa kebetulan itu terlalu aneh untuk terjadi. Baginya, segala yang terjadi di dunia ini umumnya memiliki alasan untuk terjadi. Termasuk kejadian-kejadian yang mungkin ingin ditutup rapat-rapat dan dilupakan agar tidak terus menyakitkan hati.

4 Responses to "Paralinguistik"

Ini bisa update pasti karena ada weekend panjang di bulan ini hehe. Oh ya, mungkin karena gue lagi konyol mood-nya–tapi saat baca pemaparan tentang mencuri itu hobi bukan karena butuh uang, jatuhnya jadi lucu lho. *masalahnya intonasi pelakon sitkom gak sengaja terbayang, yg biasa nadanya kocak saat cari2 alasan* ^^;

ini bisa update karena gue udh resign Ihsan. huuu… huuuu….. iya. emang mood gue jg lg ga pengen serius2 amat. sori ya kalo akhirnya ga seperti yg lo harapkan. haha.

tapi seru Rim, ketemu Taka lagi dan ada kemungkinan kasus kematian anak Taka berhubungan dengan Bagus

Kalau ekspetasi sih sesuai kok?? Kan yang penting ada lanjutannya, :))

(Semangat! Semangat!) *kali sama dengan metode membaca pikirannya mas Yudhi* 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 2,748 hits

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 3 other followers

%d bloggers like this: